Pembenaran Artikel Editor Sebuah Surat Kabar

Mei 18th, 2009

17052009993Editor sebuah koran dituntut untuk minta maaf oleh anggota DPR karena artikel yang dimuat berjudul “SETENGAH ANGGOTA DPR KORUPSI”.

Benarlah, di edisi berikutnya sang editor minta maaf dengan mengganti judul artikelnya dengan “SETENGAH ANGGOTA DPR TIDAK KORUPSI”

Seks Abis-Abisan Bikin Ancur Masa Depan

Mei 18th, 2009

gunawan-cropKasihan betul nasib gadis seusia Dewi (bukan nama sebenarnya) pelajar ABG ini baru nyaho ketika seks abis-abisan yang pernah dinikmati telah menjerumuskannya ke dalam kelam masa remaja.
Pelajar sebuah SMA negeri di Kota Lumpia Semarang membuat geger peserta UN SMU. Dewi 8 tahun mules-mules karena nervous menjawab cap-cip-cup soal UN. Tegasnya, bayi yang 6 bulan dalam rahim itu pun keluar dari rahimnya. Dewi keguguran di saat pesta indah UN berlangsung. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun silam, namun patut menjadi renungan remaja saat ini.
Gadis lugu, Dewi memang bukan Shepia dalam lagu Sheila on 7. Tapi, paling tidak Dewi adalah produk fenomena remaja masa kini seperti banyak dilukiskan dalam lirik easy listening Shepia ciptaan ABG dari Gudeg yang pernah ngetop. Kasihan Dewi, gadis lugu ini pun ibarat figur boneka barbie yang lagi laris di pasaran, ia terus bergelinding menjadi produk instan. Ia terus mengemuka bak gunung es di  Samudera Atlantik yang mengaramkan kapal pesiar yang supermewah Titanic. ‘My Love Will Go On? Begitulah, nasib Dewi karam ditelan cinta, diterjang masa badai remaja yang menggelora. Dewi adalah metamorfosis berjuta cewek ABG yang selalu ingin coba-coba, menikmati keindahan walau badai menghantam cita-citanya.
Masa remaja adalah fase badai (18-21 tahun). Gelora idealisnya (suka mengkhayal, muluk-muluk, romantis). Alat-alat reproduksiya sudah matang. Ini berabe bila tak dikendalikan. Seks abis-abisan merupakan ajang coba-coba, kata dokter spesialis kandugan-Boyke Nugroho yang sangat dikenal akrab oleh para ABG, masa depan remaja dan orang tua ada pada dirinya. Kenapa sih pake coba-coba ngeseks? Kan ada banyak cara mengenal seks dari diri sendiri.
Faktor pendidikan agama dalam keluarga bisa menjadi benteng iman. Dadang Hawari pakar psikologi yang juga banyak menulis artikel tentang remaja, menyambung ulasan Pak Boyke. “Sebaiknya kurikulum menyediakan porsi yang jelas terhadap pendidikan seks. Nah, persoalannya sekarang mau gak memfasilitasi dan berlaku buat menyalurkan kreasi dan membina akhlak para ABG tersebut. Kasihan bila banyak Dewi lainnya yang harus menanggung malu karena salah menafsirkan seks dan fungsinya.
Gimana sich? Seks abis-abisan menjadi penyakit remaja? Apakah memang budaya kita yang begitu permisif terhadap revolusi budaya. Contohnya, tradisi kumpul kebo di kalangan selebritis lokal sudah mirip gaya hidup para bule di negeri seberang sana. Coba aja  baca beberapa tabloid wanita yang banyak diecer di pnggir jalan yang seenaknya mengekspos kisah para artis kumpul kebo. Gile bener! Baca tuch  kisah kawin cerai plus tayangan gambar-gambar vulgar lainya. Nah, gilenye lagi berita yang begitu banyak nyekokin para ABG. Semua demi menaikkan angka tiras tabloid.
“Sebetulnya nggak usah sich, kata artis berleher jenjang asal Kuningan-Maudy Koesnaedy- nggak semua artis kayak gitu, kalo gitu termasuk gue dong?“ Maudy berseloroh. Tambahnya tegas, memang industri pers mengarah ke budaya hura-hura.
Yang namanya selebritis dimana-mana jadi gosip. “Saya gak setuju kalo selebritis suka kumpul kebo. Jangan digeneralisasikan dong. Kumpul kebo terjadi dimana-mana. Nah, yang bisa dijual para selebritis. Seks bebas juga gitu. Bukan cuma anak ABG atau anak…aja! yang penting ortu, guru, ulama bisa menjembatani sepak terjang remaja. Makanya, mulai dari pacaran hingga ke pelaminan, remaja perlu dibina secara persuasive dan bukan permisif alias semau die aje, kata mantan pacar Gilang Ramadhan yang pandai berbahasa Perancis itu.
Kurikulum sekarang kurang begitu peka terhadap pendidikan budi pekerti, kata Wanda Hamidah terburu-buru hendak siaran di stasiun televisi swasta. Ditambahkannya, ortu, guru, ulama, semua pihak terkait harus bertanggung jawab. Kenakalan remaja jangan dilihat dari segi ekses saja. Tapi, proses dan dampak pembinaan (pendidikan) hendaknya perlu diukur. Jangan-jangan remaja nyeleneh mereka lolos dari pembinaan yang optimal. Ortu dan guru menjadi figur teladan. Lucu dong kalau para selebritis menjadi teladan, walaupun bisa bisa sih…he…he, Wanda mengakhiri ceraran reporter Prestasi.

Tantangan
Menyinggung soal perilaku seks bebas remaja, artis seksi Britney Spears menjawab melalui websitenya. Kata bintang Amrik itu, soal seks remaja yang ada di negerinya sudah biasa tuh! “Gue enggak setuju kalo kebebasan remaja dikekang. Emang sih ngeseks di luar perkawinan dilarang oleh oleh agama manapun. Terus terang, waktu gue disuruh cipokan ame cowok ganteng untuk video klip gue agak risih. Gimana enggak risih. Lu, bayangin aja ntu video klip bakal ditonton oleh seluruh etnik dan ABG yang punya latar psikobudaya yang berbeda, termasuk negara Anda yang kaya akan nilai ritual seperti contohnya Bali. Terus terang gue takut dikira menjual seks walaupun penampilan gue emang syur (maksudnya seksi dan dan sensual). Harusnya ABG tahu dan menyaring sendiri mana yang baik dan buruk. Budaya negeri gue beda jauh sama negeri elo.
Gue bangga sama keterangan elo kalau poster dan nomor-nomor hits gue laku di Indonesia. Soal seks bebas remaja kayaknya amat universal. Semua tergantung ortu dan lingkup sekolah serta rumah tangga.
Dalam kesempatan berbeda personel Weslife yang ganteng Kian, menyinggung seks bebas remaja sebagai fenomena universal yang klasik. Dimana-mana remaja itu sama, suka mencoba. Kian setuju sebaiknya hubungan badan pranikah harus dikendalikan. Di negara saya (Irlandia) setiap orang tua menganjurkan agar anak patuh dan berbakti kepada ortu. Seks bebas itu tidak boleh! Malu-maluin, apalagi melakukannya di dalam kelas. Gue takut sama ABG di Indonesia. Mereka sopan-sopan walau gue sempet kena cipok dan pelukan penggemar waktu konser di Jakarta. Tapi, itu sich wajar dan soal ngeseks bebas, amit-amit dech. Risikonya gede,taruhlah pake kondom, itu kan tak menjamin bebas penyakit. Ingat penyakit AIDS bisa berjangkit kemana-mana gara-gara yang satu ini, soalnya barat sama timur itu berbeda, tapi etika, moral, kalau elo ‘ngedesek’ gue berkomentar soal sepakat seks bebas remaja itu hal yang jelek cuma nambah deret ukur dosa! Kian ogah bicara lebih jauh lagi.
Gimana sekarang menurut kawula muda kita? Kasus semacam Dewi, siapa yang perlu disalahin? Semua kembali kepad nurani dan kebesaran jiwa ABG Indonesia. Kayaknya perlu diskusi nih, sama pacar, guru dan ulama! Biar deh , cukup sampe kasus Dewi aja yang ngerasain buah seks bebas itu. (Gunawan Munsyi - Guru SMPN 61 Jakarta)

Jangan Hanya Bisa Mengeluh

Mei 18th, 2009

gunawan-cropSEBAGAI bangsa yang beragama dan berfalsafah Pancasila, kita tidak boleh mengeluh. Bulan Desember sebagai bulan penutup tahun harus kita sambut dengan optimisme yang tinggi. Kita syukuri karena Tuhan Yang Maha Kuasa akan membukakan jalan bagi mereka yang bersyukur dan tawakal.
Demikian pesan Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono menjelang akhir tahun 2008. Beliau baru saja pulang dari pertemuan internasional di Kampala, Uganda, dan melihat banyak hal yang harus dibenahi, dan percaya bahwa bangsa ini mampu pula mengantisipasinya.
Bulan Desember ini, katanya, merupakan kesempatan untuk menutup tahun dengan memberikan perhatian kepada sesama. Sepanjang tahun kita telah bekerja keras dan banyak yang berhasil, tetapi tidak sedikit yang terpaksa gigit jari karena usaha yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh tidak mencapai hasil yang diharapkan. Lebih-lebih lagi dalam satu dua bulan terakhir ini dunia kembali lagi terpuruk.
Awalnya dunia dilanda ketidak pastian tentang harga minyak yang melonjak tajam sehingga rakyat, dalam waktu yang sangat singkat terpaksa berkenalan dengan bahan bakar gas. Baru saja mengenal penggunaan gas, karena kesiapan yang belum sempurna, gasnya sukar diperoleh, atau terjadi kecelakaan karena pemahaman yang juga belum sempurna.
Bulan Desember yang semestinya kita menghormati ibu-ibu dan membangun kesetikawanan sosial menjadi tercoreng karena kita tidak tahu lagi bagaimana mengatur rumah tangga dengan pengeluaran yang tidak bisa di rem serta nilai uang yang makin merosot. Kita ingin berbagi dengan kawan, tetapi kita sendiri terpuruk gara-gara gejolak dunia yang tak kunjung reda.
Secara internasional kita bersyukur karena pada akhir bulan November lalu di Kampala, Uganda, Afrika, gagasan yang di tahun 1993-1994 kita cetuskan di Jakarta, yaitu pembentukan lembaga internasional ”Patners in Population and Development”, masih tetap jaya. Organisasi Patners ini menggelar pertemuan internasional membahas pembangunsn yang bertumpu pada penduduk dan keluarga.
Indonesia tampil tegar menawarkan gagasan baru berupa pembangunan Pos-pos  Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya di pedesaan sebagai forum silaturahmi dan sekaligus forum berbagi kepedulian sesama anak bangsa untuk bersama-sama bahu membahu menyelesaikan persoalan dengan sistem yang menjadi tali pemersatu untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Alhamdullilah, paparan Indonesia itu mendapat perhatian. Mereka ingin berbondong berkunjung dan belajar bersama kita.

Pengaruh Bahasa Asing

Mei 18th, 2009

gunawan-merahDalam perkembangannya, bahasa Indonesia tidak terlepas dari pengaruh bahasa lain, bahasa daerah ataupun bahasa asing. Pengaruh itu di satu sisi dapat memperkaya khasanah bahasa Indonesia, tetapi di sisi lain juga dapat menggangu kaidah tata bahasa Indonesia.
Salah satu contoh yang dapat memperkaya khasanah bahasa Indonesia ialah masuknya kata-kata tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Kata  fakir, saleh, dongkrak, kursi, dan fakultas, misalnya, merupakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang sekarang tidak terasa sebagai kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
Satu hal yang menarik berkaitan dengan kata-kata yang berasal dari bahasa asing itu ialah adanya pasangan kata yang “serupa tapi tak sama”, seperti kata  haji, hajah, almarhum-almarhumah, dan almukaram-almukaramah. Ketiga pasangan bentuk itu sudah berterima sebagai warga bahasa Indonesia. Di dalam kenyataannya, masih terdapat penggunaannya secara tidak tepat. Kata haji-hajah dan almukaram-almukaramah merupakan serapan dari bentuk bahasa Arab. Kata-kata itu mempunyai makna tersendiri. Kata haji, almarhum, dan almukaram adalah bentuk yang digunakan untuk mengacu pada unsur tertentu (orang) yang berjenis kelamin maskulin (muzakar), sedangkan hajah, almarhumah dan almukaramah dipakai untuk merujuk pada unsur yang berjenis kelamin feminim (muanas). Dengan demikian, kata haji, bermakna laki-laki yang sudah menunaikan ibadah haij, kata almarhum, bermakna laki-laki yang dirahmati, dan kata almukaram mempunyai makna ’laki-laki yang mulia’. Kata hajah bermakna perempuan yang sudah menunaikan ibadah haji, almarhumah bermakna perempuan yang dirahmati, dan kata almukaramah bermakan ’perempuan yang mulia’; kata almarhum bermakna yang telah meninggal (laki-laki) dan almarhumah bermakna yang telah meninggal (perempuan).
Jika dilihat dari segi bentuknya tampak bahwa untuk bentuk yang feminim dilakukan penambahan huruf tertentu, yakni (a) dalam bahasa asalnya. Jika ditransliterasi ke dalam bahasa Indonesia, huruf itu menjadi (h). Dengan demikian, haji, hajah, almarhum, almukaram, almukaramah itu merupakan tiga pasang yang berbeda, masing-masing mempunyai acuan yang berbeda pula. Banyak yang ditemukan bentuk-bentuk seperti itu sebagai akibat pengaruh bahasa asing. Berikut ini dikemukakan beberapa contoh lain, misalnya muslim, mukmin, saleh, hafid, ustad, mubaliq, mualim, qari (muzakar) menjadi muslimah, mukminah, hafidah, salehah/salihah, ustadah,mubaliqah, mualimah, qariah (muanas).

Daripada yang Mubazir
Kata daripada termasuk ke dalam golongan kata depan. Kata tersebut digunakan untuk memmbuat perbandingan atau mengontraskan sesuatu. Dalam kenyataannya, penggunaan kata itu tidak selalu begitu. Kata daripada sering dipergunakan secara tidak tepat, seperti contoh berikut. 1) tujuan daripada pertemuan itu adalah utnuk mencari jalan keluar; 2) kita harus selalu dapat memperhatikan keinginan daripada anggota. Penggunaan kata daripada pada kedua kalimat tersebut itu tidak tepat kemudian diubah menjadi 1) tujuan pertemuan ini adalah untuk mencari jalan keluar mengenai hal-hal yang belum terpecahkan pada pertemuan yang lalu; 2) kita harus selalu dapat memperhatikan keinginan anggota. Pemakaian kata daripada yang tepat ialah seperti pada kalimat berikut ini : 1) Devi lebih rajin daripada adiknya; 2) sebaiknya, kita datang lebih awal daripada terlambat.

Jamak yang Mubazir
Yang dimaksud jamak adalah jumlah sesuatu yang lebih dari satu. Di dalam bahasa Indonesia, jamak dapat dinyatakan dengan bentuk ulang atau dengan menambahkan bentuk leksikal tertentu pada kata benda yang diacu. Bentuk leksikal itu ialah, antara lain beberapa, semua, banyak, para dan kaum.
Pada kenyataan berbahasa, kedua bentuk jamak tersebut sering digunakan secara bersamaan sehingga menghasilkan bentuk jamak yang mubazir, misalnya : 1) semua murid-murid diharuskan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin; 2) beberapa orang-orang  yang tidak setuju dengan keputusan pimpinan keluar dari perusahaan; 3) untuk membangun koperasi ini, banyak persoalan-persoalan intern harus kita selesaikan dahulu.
Bentuk jamak semua murid-murid, beberapa orang-orang, banyak persoalan-persoalan pada ketiga contoh di atas merupakan gabungan bentuk jamak leksikal dan bentuk jamak ulang. Kemudian kalimat tersebut diubah menjadi 1) semua murid-murid diharuskan mengikuti upacara bendera setiap hari Senin; 2) beberapa orang yang tidak setuju dengan keputusan pimpinan keluar dari perusahaan; 3) untuk membangun koperasi ini, banyak persoalan intern harus kita selesaikan dahulu.

Kata Siang, Malam, dan Sore, Pemakaianannya dalam Sapaan

Mei 18th, 2009

gunawan-merahDalam bahasa Indonesia, kita mengenal beberapa kata yang mengacu ke saat tertentu yang merupakan bagian hari : siang, malam, pagi dan sore. Persepsi orang berbeda-beda terhadap pengertian yang diacu oleh kata itu. Hal itu terlihat pada keberagaman batasan yang diberikan oleh beberapa kamus.
Kata siang bermakna saat matahari terbit sampai matahari terbenam atau saat dari pukul 06.00 ampai pukul 18.00. Kata siang biasa dipakai sebagai pasangan kontras malam. Kata malam bermakna saat matahari terbenam sampai matahari terbit atau dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00.
Kata pagi bermakna waktu menjelang matahari terbit atau saat mulainya hari. Rumusan lain yang dapat ditemukan adalah saat matahari terbit pukul 09.00 atau pukul 10.00. Dari beberapa rumusan itu dapat dikatakan, pagi adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari siang.
Disamping kata itu, kita juga mengenal subuh dan dini (hari). Kata subuh mengacu pada saat menjelang terbitnya fajar, sedangkan dini hari mengacu pada saat awal hari. Dengan kata lain, subuh dan dini hari adalah bagian akhir dari malam dan bagian awal dari pagi. Orang menyebutnya pagi-pagi benar atau pagi buta.
Kata sore bermakna saat sesudah tengah hari sampai saat matahari terbenam atau dari pukul 14.00 sampai pukul 18.00. Khusus saat matahari menjelang terbenam atau dari pukul 16.00 sampai pukul 18.00, kita menyebutnya petang. Dengan demikian, petang adalah bagian akhir dari sore dan sore adalah bagian akhir dari petang.
Dari uraian di atas tampak bahwa pengertian kata-kata yang mengacu ke bagian akhir itu dikaitkan dengan dua hal, yaitu (1) keadaan lama; ada tidaknya matahari atau keadaan gelap atau terang, dan (2) jam yang menjadi penunjuk waktu. Dua tolak ukur itulah yang meyebabkan perbedaan persepsi. Di Banyuwangi, ujung timur pulau Jawa, pada pukul 06.00 matahri sudah kelihatan dan tidak dapat lagi disebut subuh. Bagi penduduk di tempat itu sinar matahari pada pukul 14.00 sudah tidak sedemikian panas sehingga mereka menganggap saat itu sudah sore. Sementara itu, di Banda Aceh, ujung utara Sumatera, pada pukul 06.00 matahari sudah muncul; saat itu dikatakan masih subuh. Pada pukukl 14.00 sinar matahari masih terasa panas dan orang di sana menganggap saat itu masih siang. Di daerah yang dekat kutub, misalnya negeri Belanda, pada bulan tertentu matahari masih kelihatan pada pukul 21.00. Meskipun demikian, orang sepakat saat itu sudah malam.
Perbedaan persepsi itu juga sapaan salam yang berkaitan dengan saat kita menyapa. Batas pagi dan siang, misalnya, tidak dapat ditentukan secara tegas. Meskipun demikian, kita lazim mengucapkan selamat siang antara pukul 10.00 dan pukul 14.00. selamat sore lazim diucapkan antara pukul 14.00 dan pukul 18.30. Pada pukul 16.30 sampai pukul 18.30, pada situasi yang formal, lazim diucapkan selamat petang.
Selamat malam lazim diucapkan antara pukul 18.30 dan 04.00. Kita tidak lazim mengucapkan selamat subuh atau selamat dini hari. Antara pukul 04.00 dan pukul 10.00 lazim diucapkan selamat pagi.

Ada kebiasaan baru yang menarik. Jika kata pagi diartikan ‘awal hari’, maka penyiar yang mucul di layar televisi pada pukul 00.01 menganggap wajar mengucapkan selamat pagi.
Fungsi sapaan memang bukan untuk menginformasikan makna yang terkandung pada kata-kata yangn dipakai, melainkan untuk menciptakan kontak awal yang akrab antara pembicara dan kawan bicara yang memungkinkan komunikasi selanjutnya berjalan lancar. Sapaan kadang-kadang juga digunakan untuk maksud tertentu. Pada pukul 08.00 seorang atasan dapat mengucapkan “selamat siang” kepada bawahannya yang baru datang ke kantor yang menurut aturan, karyawan itu seharusnya masuk pukul 07.00. dalam hal itu, sapaan digunakan untuk menegur dan mengingatkan karyawan bahwa ia datang terlambat. Jadi, jika penyiar televisi mengucapkan “selamat pagi” pada pukul 1.00, tampaknya ia juga bermaksud mengingat penonton bahwa saat itu sudah mulai hari yang baru.

Cara Membedakan TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut, dan TNI ANgkatan Darat

Mei 18th, 2009

Ada 2 orang sahabat sedang mengobrol-obrol sejenak,

Anto : “Eh Kri, lu kan tahu ya bangsanya militer gitu, lu kan sering baca majalah militer, lu tahu ga ciri-ciri yang paling gampang diliat TNI angkatan udara, laut dan darat.”

Akri: “Itu mah gampang, coba aja orang itu lu tolong kalo dia jawab ‘Terima kasih yang setinggi-tingginya’ berarti dia angkatan udara, kalo ‘Terima kasih yang sedalam-dalamnya’ berarti angkatan laut, kalo ‘Terima Kasih yang seluas-luasnya’ berarti angkatan darat…”

Anto: “????”

Banci dan Baterai ABC

Mei 18th, 2009

Oji : Apa bedanya banci dan batu baterai ABC?

Acong : Banci singkatan dari banyak cincong; baterai ABC bikin cincong

Oji : Bagus, tebakan gue jadi nambah artinya

Acong : Jawaban gue bener khan…? (pede banget)

Oji : Salah. Yang bener, batu baterai ABC tahan lama kalau banci mana tahan.

Pistol-pistolan dan Uang-uangan

Mei 18th, 2009

Keributan terjadi di sebuah toko mainan anak-anak. Pemilik toko mencak-mencak, memaki seorang anak kecil. Anak kecil itu membayar sebuah pistol-pistolan seharga Rp. 700 ribu dengan tujuh lembar uang ratusan ribu yang berwarna merah. ”Saya khan sudah bayar tuh uangnya, jangan marah dong. Namanya juga pistol-pistolan, nggak salah kalau saya bayar dengan uang-uangan. Anda bagaimana sih? Suara anak itu keras membantah caci maki pemilik toko.

Suara itu mengundang seorang ahli bahasa masuk ke dalam toko. Ia pun mendamaikan kedua orang yang bertengkar itu. Setelah mengetahui duduk perkaranya. Ahli bahasa itu pun menjelaskan, bahwa akhiran –an yang nempel pada kata ulang pistol-pistolan artinya sama dengan pistol bohongan. Jadi, tidak salah kalau anak itu membayarnya dengan uang-uangan yang artinya juga sama yankni uang bohongan.

Sejak itu pemilik toko menempelkan tulisan di depan tokonya dengan kalimat, ”Pistol-pistolan tidak boleh dibeli dengan uang-uangan.

Ismail Marzuki

Mei 18th, 2009

Bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke pasti bangga memiliki tanah air yang subur dan alam mempesona. Disepanjang pantai selalu terlihat nyiur melambai. Seolah semua itu memberikan keramahan. Tidak dapat dilukiskan betapa besar rahmat tuhan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Kita patut bersyukur. Rasa syukur begitu melekat dihati anak Indonesia yang bernama Ismail Marzuki. Kebangsaan dan rasa syukurnya telah diabadikan dalam lagu Rayuan Pulau Kelapa.

Mendengar lagu itu perasaan kita pun hanyut. Seolah dihadapan kita terhampar luas tanah air yang begitu menawan. Ismail Marzuki memang sangat berbakat dalam mengubah lagu. Boleh dikatakan bakat seninya sangat tinggi. Seolah ia lahir memang untuk membangkitkan semangat cinta tanah air. Bakat alamnya mulai terlihat sejak ia masih kanak-kanak.

Pemuda yang lahir di Kwitang (Jakarta) pada tanggal 11 Mei 1914 itu benar-benar gila musik. Semasa muda hingga akhir hayatnya, ia mengoleksi piringan hitam. Kegilaannya pada musik betul-betul terbina secara pribadi. Bayangkan saja, ia betah berjam-jam mendengarkan musik dan lagu yang waktu itu diputar melalui gramafonnya. Tidak jarang pula ia selalu bersiul dan bernyanyi, pada setiap kesempatan tanpa mengenal jenuh.

Darah seninya punterungkap pada penampilannya yang selalu aduhai. Ia gemar berjalan-jalan dengan sepeda motor kebanggannya. Pakaiannya selalu rapid an berdasi. Penampilannya mirip bintang film ternama waktu itu. Ia memang seorang seniman yang selalu rapi. Laki-laki yang nama kecilnya Mail itu pun jiwanya sangat romantis dan patriotis.

Ia mengawali kariernya dengan bergabung dalam perkumpulan orkes Latief Jawa dibawah pimpinan Hugo Dumas pad tahun 1936. ia bertambah kreatif . hal ini terbukti ketika ia mengaransir irama keroncong, langgam melayu dan lagu-lagu barat. Tidak jarang pula aransemen musiknya mewarnai orkes Lief Jawa. Bentuk eksperimen musik yang ia coba yakni memasukkan instrumen arkodeon ke dalam laggam Melayu. Berkat kerja kerasnya, ia diikutkan dalam siaran radio Hindia Belanda Nirom (Nederlands Indische Radio Omrep Maatschappy). Pengalaman ini menguatkan dirinya dalam meniti langkah sebagai composer lagu. Saat itu lagu

Memasuki zaman Jepang nirom bubar dan diganti menjadi Hoso Kauri Kyoku. Orkes Lief Jawa diganti menjadi Kireina Jawa. Aktivitasnya diawasi oleh keimin Bunka Shidoso (pusat kebudayaan Jepang) dibawah tanggung jawab Prof.Ida Nabuo. Ismail Marzuki saat itu diminta Nabuo untuk siaran di radio Hoso Kami Melati Kusuma, dan Kembang Rampai dari Bali.

Ismail Marzuki tidak puas kalau dirinya dijadikan alat propaganda Jepang. “Gagah Perwira”. Kreativitasnya terus berkembang bersama dengan kemajuan revolusi fisik. Hal ini trlihat dari karya-karyanya yang lahir sejak tahun 1946 jadi bandung lautan api. Di sini lahirlah lagu “Halo-Halo Bandung” yang membakar semangat rakyat untuk merebut Bandung kembali. Suasana rakyat begitu tercekam oleh aksi militer Belanda. Waktu itu para pejuang dan rakyat meninggalkan daerah dengan romantis lahirlah lagu “Perjuangan Jangan Ditanya”. Disusul lagu-lagu asmara yang menghibur kerinduan para prajurit di medan laga, seperti Sepasang Bola Mata, Selendang Sutera, Melati di Tapal Batas Bekasi, Saputangan dari Bandung Selatan dan Juwita Malam.

Karya lainnya yang liriknya berbobot seriosa, seperti Aryati, Oh angin Sampaikan Salamku, Gerbang Nirwana, dan Lambaian Bunga. Di samping cermat membaca situasi, Ismail Marzuki juga mampu mengekspresikan perasaan melalui bahasa yang mudah dicerna. Ungkapannya khas dan popular. Hal ini terlihat dalam  menjadi cirri pribadinya yang periang. Coba saja simak lirik “O..Kopral Jono” : “Gayamu perkasa mirip banget panglima/ ramah-tamahmu membikin gila hati wanita/ O..kopral Jono/ aksimu Bung Very good seperti mas Robinhood/ dengan jambulmu semua gadis bertekuk lutut/”.

Selain periang ia juga jujur,sikap ini tampak dalam luapan kegembiraan dan kesedihannya dalam revolusi fisik. Bulan Desember 1949 RRI mendapat pengakuan, para pejuang memasuki kota. Semua itu ia lukiskan dalam lagu ”Selamat Datang Para Pahlawan Muda”. Namun, kesedihannya tidak dapat dibendung ketika ia mendengar kabar beribu pejuang yang tak kembali. Mereka gugur, maka lahirlah lagu “Karangan Bunga dari Selatan” dan “Gugur Bunga” yang hingga saat ini dijadikan lagu saat jenazah para pahlawan diturunkan ke liang lahat.
Belanda begitu kuat. Hasratnya yang menggebu itu ia lukiskan dalam lagu “Irian Samba”, “Jangan Ganggu Kekasihku yang Molek”. Sebetulnya hamper semua karyanya latarbelakangi oleh kehidupan bangsanya sendiri. Revolusi menjadi bagian dari keagungan karyanya. Kecintaannya pada musik ia buktikan hingga akhir hayatnya. Ketika ia menggarap lagu ke-203, Tuhan memanggilnya untuk selamanya. Tepatnya pada tanggal 25 Mei 1958, ia wafat dalam usia 44 tahun. Penghargaan pemerintah terhadap dirinya cukup besar. Ia memperoleh piagam Wijaya Kusuma untuk lagu “Rayuan Pulau Kelapa”. Untuk mengabadikan namanya, pemerintah menamakan pusat Kesenian Jakarta sebagai Taman Ismail Marzuki.

Pasang Surut Bahasa SLANG

Mei 18th, 2009

Kacian dech, loe, ya udah egp aja. Makanya, jangan gampang percaya. Biar nyaho, loe. Udah ketahuan muke gile, majadikipe. Nggak  bisa dipercaya. Kena batunya dech, loe. Cape dech.

Penuturan bahasa Indonesia gado-gado seperti di atas sering dijumpai dalam komunikasi keseharian. Gejala ini menjadi ciri komunitas masyarakat penutur yang senang menyandikan suatu maksud dengan cara lain. Dari genre penuturan seperti itu, tampaknya kalangan remaja mulai memanfaatkan cara-cara bertutur praktis dan cenderung populis.

Kencederungan penggunaan bahasa tersembunyi secara sosiolungistik muncul dalam komunikasi masyarakat yang terbatas. Penggunaan kata, istilah dalam ranah ini sangat terbatas karena memang cenderung digunakan untuk menyatakan ciri sebuah komunitas. Linguis bernama Mario Pei dalam buku History of Linguistik menyatakan, bahwa cara bertutur komunitas tertentu merupakan salah satu fenomena penggunaan jenis bahasa slang. Bahasa ini muncul karena motivasi merahasiakan suatu penuturan yang disampaikan secara terbuka.
Misalnya, dalam kelompok masyarakat pencuri menyebutkan jam tangan dengan kata jengkol. Penyebutan lainnya, kata radio atau benda-benda elektronik lainnya dengan penyebutan jangkrik. Dengan begitu, cobalah simak kembali penuturan slang di atas yang berbunyi Kacian dech, loe, ya udah egp aja. Makanya, jangan gampang percaya. Biar nyaho, loe. Udah ketahuan muke gile, majadikipe. Nggak  bisa dipercaya. Kena batunya dech, loe. Cape dech.
Penuturan di atas, secara tegas plesetan dari kashan sekali kamu (dinyatakan menjadi kacian dech, loe); tidak usah dipikirkan (dinyatakan menjadi egp = emang gue pikirin); biar tahu (dinyatakan menjadi nyaho); sebutan pecundang dan makian (dinyatakan menjadi muke gile dan majadikipe); terkena akibat (dinyatakan menjadi kena batunya); olok-olok (dinyatakan menjadi cape dech).

Bahasa slang seperti di atas, perlahan mulai menjadi semacam jargon yang penggunannya sangat meluas, bahkan menjadi sebuah kebutuhan komunikasi yang tidak lagi sebagai rahasia dari komunitas pemakai bahasa tertentu saja. Gejala seperti ini dalam komunikasi sehari-hari bila ditelusuri perjalanan kemunculannya memang cenderung mengikuti trend atau kecenderungan popularitas peristiwa atau cerita yang berhubungan dengan suatu keadaan tertentu.
Misalnya, dalam perkembangan slang remaja sejak tahun 1970-an hingga 2000-an muncul istilah seperti perek, grace simon, ciblek, oge, grepe, gren punk, bondon, ayam kampus, ayam puncak dan jablay untuk menyebutkan perempuan ’gituan’. Di kalangan remaja pengguna narkoba, dikenal juga kata dan istilah seperti gele, cimeng, giting, gau, ampul, sakau, ngebek, bong, ngedruk, nyekek botol dan kata sejenisnya. Di kalangan waria muncul beberapa slang seperti : bo, bro, coy, adau, gaul, manatahan, nyelot, karaoukean dll. Di kalangan polisi muncul juga slang terbatas seperti prit jigo, lapan anam, tiga tujuh lapan, damai, KUHP dll. Di kalangan remaja slang menjadi sebuah kebutuhan komunikasi yang identik dengan bahasa prokem. Ini bisa disimak melalui pemunculan bahasa gaul, seperti cabut, bacut, mokal, bonyok, nyokap, bokap, harim, brokap, sepokat, pembokat, cekak, pede, ge-er, pokai, tokai, toket, bokep, bau naga.

Pemunculan genre slang dalam perkembangannya secara luas perlahan menjadi sebuah ungkapan yang cerdas. Kenderungan ini sekarang diperkuat dengan maraknya dunia hiburan terutama dalam acara TV. Misalnya, dalam sebuah acara banyak presenter konyol meluncurkan ungkapan kiss bye, katro, ndeso, hebring dll. Secara cerdas pemunculan yang memanfaatkan popularitas suatu peristiwa atau tokoh keseharian sering terungkap dalam pernyataan, seperti ah teori, pusing, inga-inga, enak gila, minta beli, selanjutnya terserah Anda, kacangku kacang garuda, ogah ah, pak Ogah, mau kaya.

Dalam bentuk kritik penuturan serupa belakangan muncul kalimat potongan lagu, seperti kau yang mulai kau yang mengakhiri (sindiran untuk kritikus plin-plan); janji-jani tinggal janji (sindiran untuk kritikus pembohong); tebar pesona (sindiran PDI-P untuk Presiden SBY); kucing garong (sindiran untuk koruptor yang dibiarkan); embat, libas, tiban, hajar, beri (pernyataan untuk tindak kekerasan  dan kriminal).

Fenomena timbul-tenggelamnya bahasa slang menjadi sebuah data historis pengguna bahasa pada kurun waktu tertentu. Ini menarik sekaligus menjadi tantangan bagi proses pembinaan bagi pengembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Proporsi penggunaannya tentunya perlu diluruskan sebagai sebuah salah satu jenis bahasa Indonesia nonbaku atau sebut saja bahasa gado-gado. Tentunya ini harus dicermati secara skeptis sebagai sebuah kekayaan cara bertutur orang Indonesia yang suka akan keanehan dan hal baru. Fenomena ini tidak perlu dijadikan sebagai ancaman serius dalam proses pembinaan bahasa yang baik dan benar. Namun, perlu diperkenalkan sebagai bentuk-bentuk linguistik yang unik yang memiliki kajian sosiolinguistik.
Klasifikasi penggunaan bahasa seperti itu perlu dilakukan sebagai data deskriptif penutur bahasa Indonesia populer. Namun begitu, tidak serta merta wajib ditiru sebagai bentuk penuturan yang trendi atau dibuat-buat (artifisial). Dalam penuturan feature jurnalistik memang penuturan seperti itu acapkali ditampilkan sebagai salah satu media yang menggelitik pembaca. Tentunya ini pun perlu dibatasai dalam konteks yang benar atau sesuai dengan maksud-tujuan penuturan. (Gunawan, Guru SMPN 61 Jakarta)